RSS

Khutbah Hajat

25 Jul

Pengerrtian Khutbah Hajat

Khotbah, artinya = Berpidato

Hajat, artinya = Keperluan

 

Pembukaan/awal mulai pembicaraan (dengan lisan maupun tulisan) yang dimulai dengan pujian dan sanjungan  dan membaca tasyahhud (dua kalimat syahadat) kepada Allah ‘Azza-Wa-Jala, untuk keperluan, seperti ; berkhotbah jum’at, khotbah akad nikah, berceramah/bertabligh, mengajar memberikan kuliah, berdiskusi, mengarang dan lain sebagainya.

 

Rasulullah SAW selalu memulai khotbahnya dengan mengucapkan puji-pujian dan sanjungan kepada Allah ‘Azza-Wa-Jala serta bertasyahud sebagaimana telah diriwayatkan oleh banyak shahabat.

 

Di bawah ini akan saya bawakan beberapa riwatnya.

1. Dari Asma’ binti Abi Bakar, menceritakan :

Artinya:

….Lalu Nabi SAW memuji Allah dan menyanjungnya, kemudian beliau berkata : Am-ma ba’du….. (shahih riwayat : Bukhari I/29, 221 dan lain-lain).

 

2. Dari Amir bin Taghlib (lafadznya sama dengan riwayat Asma’ diatas)

(shahih riwayat : Bukhari I/221)

 

3. Dari Aisyah, ia menceritakan :

Artinya :

 

…Ketika beliau  (Nabi SAW) telah selesai shalat shubuh, beliau menghadap kepada orang banyak, lalu beliau BERTASYAHHUD, kemudian beliau berkata : Am-ma ba’du…….(shahih riwayat : Bukhari I/222).

4. Dari Abu Humaid As-Saa’idy, ia menceritakan.

Artinya :

…Bahwa Rasulullah SAW pernah berdiri (khotbah) di waktu sore sesudah sholat (ashar), lalu beliau bertasyahhud dan menyanjung atas Allah yang memang Dia pemilik (puji-pujian), kemudian beliau berkata: Am-ma ba’du… (shahih riwayat Bukhari I/222).

5. Dari Miswar bin Makhramah. (lafadznya  semakna dengan riwayat Aisyah dan Abu    Hummaid As-Saa’idy) (riwayat Bukhari I/222).

 

6. Dari Ibnu Abbas, ia menceritakan.

Artinya :

Nabi SAW pernah naik mimbar, lalu beliau memuji Allah dan menyanjung atas-Nya, kemudian berkata: Am-ma ba’du… (shahih riwayat Bukhari I/223).

 

7. Dari Jabir bin Abdullah, ia menceritakan.

Artinya:

Adalah Rasulullah SAW berkhotbah kepada manusia, beliau memuji Allah dan menyanjung atas-Nya yang memang Dia (Allah) pemilik (puji-pujian dan sanjungan) dan beliau mengucapkan : Barangsiapa yang Allah pimpin dia,maka tidak ada satupun yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan (Allah), maka tidak ada satupun yang akan bisa menunjukinya,..Kemudian beliau mengucapkan : Am-ma ba’du, maka sesuangguhnya sebaik-baik perkataan itu ialah Kitabullah (Al-Qur’an) dan sebaik-baik pimpinan itu ialah pimpinan Muhammad, dan sejelek-jelek urusan ialah yang diada-adakan (didalam perkara ibadah), dan tiap-tiap bid’ah itu sesat, dan tiap-tiap kesesatan itu tempatnya di neraka, (dalam satu riwayat disebutkan : Beliau mengucapkan di dalam khotbahnya sesudah bertasyahhud : Sesungguhnya sebaik-baik perkataan ialah Kitabullah…….). (shahih riwayat : Muslim 2/11, Ahmad dan Nasa’i).

 

8. Dari Abu Hurairah, ia berkata : Nabi SAW bersabda :

Artinya:

Tiap-tiap khotbah yang tidak (dimulai) dengan tasyahhud, maka dia (khotbah) itu seperti tangan yang berpenyakit kusta/lepra. (shahih riwayat : Abu Dawud No. 4841. Ahmad, Ibnu Hibban, Baihaqy. lihat kitab : Silsilah hadits-hadits shahih oleh Muahmmad Nashiruddin Albani jilid 1 no. 169).

 

AL-JADZMA’ artinya : Yang terpotong/putus, yang putus dengan cepat, Maksudnya : Tiap-tiap khotbah yang tidak dimulai dengan puji-pujian dan sanjungan atas Allah, maka dia seperti tangan yang terputus dengan cepat yang tidak ada faedahnya. Demikian keterangan Imam Munawi di kitabnya Fathul Qadir syarah Jami’us Shagier.

 

Berkata Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani : Barangkali inilah sebab (atau sedikitnya diantara sebab-sebab) tidak berhasilnya faedah dari pelajaran-pelajaran dan kuliah-kuliah yang diberikan kepada para murid, karena tidak dimulai dengan tasyahhud. Dimana Nabi SAW sangat menganjurkan kepada para shahabatnya untuk mempelajarinya.

 

Saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat) berkata :  bahwa menurut Al-Albani yang dikehendaki “Tasyahhud” di hadits ini ialah “Khotbatul Hajat” yang Nabi SAW telah ajarkan kepada para shahabatnya, yang lafadznya sebagai berikut :

 

Artinya :

“Sesungguhnya segala puji-pujian kepunyaan Allah. Kami memuji-Nya, dan kami memohon pertolongan kepada-Nya, dan kami meminta ampun kepada-Nya, dan kami memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan-kejahatan diri-diri kami, dan kesalahan-kesalahan perbuatan-perbuatan kami. Barang siapa yang Allah tunjuki/pimpin dia, maka tidak ada satupun yang menyesatkannya, dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada satupun yang dapat menunjukinya. Dan aku mengakui bahwa tidak ada Tuhan (yang boleh disembah) melainkan Allah sendiri yang tidak ada satupun sekutu bagi-Nya, dan aku mengakui bahwa Muhammad itu hamba-Nya dan Rasul-Nya”. (kemudian Nabi SAW membaca tiga ayat).

“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa, dan janganlah kamu mati melainkan kamu dalam keadaan muslim” (surat Ali-Imran ayat 102).

“Hai manusia bertaqwalah kepada Tuhan kamu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam), dan Ia ciptakan dari padanya (dari jenisnya) jodoh/istri (Hawa), dan Ia kembangkan dari keduanya itu, laki-laki dan perempuan-perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) kekeluargaan/hubungan silaturrahim, karena sesungguhnya Allah itu selalu mengawasi dan menjaga kamu” (surat An-Nisa’ ayat 1).

“Hai orang-orang yang beriman ! Bertaqwalah kepada Allah, dan ucapkanlah perkataan yang betul/yang benar. Niscaya Ia akan perbaiki amal-amal kamu, dan Ia akan ampunkan dosa-dosa kamu, karena barang siapa yang ta’at  kepada Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah menang dengan (mendapat) kemenangan yang besar ” (surat Al-Ahzab ayat 70-71).

(Hadits shahih riwayat : Imam Thahawi, Ahmad, Abu Dawud No. 1097 & 2118. Nasa’i 6/73, Tirmidzi, Ibnu Majah No. 1892, Abdurrazzak di kitabnya Mushanaf No. 10449, Baihaqi di kitab Sunanul Kubra 3/214, Ibnu Abi Aashim, Hakim dikitabnya Al-Mustadrak 2/182, darimi 2/141).

 

Hadits Khotbatul-Hajat ini diriwayatkan dari jalan Ibnu Mas’ud :

Artinya :

“Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata : Rasulullah SAW mengajarkan kepada kami (para shahabat) KHOTBATUL-HAJAT, (dalam lain riwayat diterangkan : Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kami Tasyahhud di dalam shalat (yaitu membaca : At-Tahiyatu dan seterusnya..) dan Tasyahhud di dalam Hajat) : …. (lafadznya telah dikutip diatas). Kemudian beliau membaca tiga ayat : ………

 

Periksalah kitab-kitab :

Fathur Rabbani, tartib musnad Imam Ahmad bin Hambal jilid 16 halaman 165, oleh Abdurahman al-Banna.

Tuhfatul Ahwadzy (syarah hadits Tirmidzi) jilid 4 halaman 237.

Musykilul Atsar jilid 1 halaman 3 & 4, oleh Imam Thahawi.

Kitab As-Sunnah jilid 1 halaman 114 No. hadits 255, oleh Al-Hafidz Abu Bakar Amr bin Abi Aashim, dan di Takhrij hadits-haditsnya oleh Muhadditsh Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Zadul Ma’ad oleh Imam Ibnul Qoyim, dengan penjelasan oleh Abdul Qadir Arnauth, jilid 1.

Subulus Salam (syarah hadits-hadits Bulughul Maram) oleh Imam Shan’ani jilid 3 halaman 112.

Silsilah hadits-hadist shahih jilid 1 No. 169 oleh Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani.

Selain diriwayatkan dari jalan Ibnu Mas’ud, hadist yang semakna dengan ini (lafadz khotbatul hajat) diriwayatkan juga dari jalan Ibnu Abbas yang dikeluarkan oleh Imam-imam : Thahawi, Ahmad, Ibnu Majah, Nasa’i dan lain-lain (dengan sanad yang shahih).

 

Kemudian  Imam Muslim di kitab shahihnya (juz 3 halaman 12) meriwayatkan juga dari jalan Ibnu Abbas yang lafadznya sebagai berikut:

Artinya :

“Dari Ibnu Abbas :………Lalu Rasulullah SAW mengucapkan : IN-NAL HAMDA LILLAHI…… (arti bagi lafadz ini telah ada diriwayat Ibnu Mas’ud).

Lafadz ini lebih ringkas dari lafadz Ibnu Mas’ud.

Diriwayatkan Imam Ahmad dan Nasa’i, lafadz akhirnya berbunyi:

“Wa-Asyhadu an-na Muhammadan ‘Abduhu wa-Rasuuluhu”.

Ringkasnya riwayat dari jalan Ibnu Abbas itu dikeluarkan oleh Imam-imam : Muslim, Ahmad, Nasa’i 6/74, Ibnu Majah dan Thahawi.

 

Pandangan.

Menurut pandangan saya (Abdul Hakim bin Amir Abdat), lafadz khotbatul hajat itu, boleh kita baca dengan tiga cara :

Kita baca lafadz Ibnu Mas’ud sekaligus membaca ayat-ayatnya sebagaimana tersebut diatas.

Kita baca lafadz Ibnu Mas’ud, dengan tidak membaca ayat-ayatnya, saya katakan demikian, karena diriwayat Ibnu Abbas Nabi SAW tidak membaca ayat-ayat Qur’an, seperti yang tesebut di riwayat Ibnu Mas’ud. Jadi kita cukup membaca riwayat Ibnu Mas’ud hanya sampai di kalimat : Was-asyhadu an-na Muhammadan ‘abduhu wa Rasuuluhu.

Kita baca riwayat Ibnu Abbas sebagaimana tersebut diatas, dan boleh juga kita baca sekaligus ayat-ayat Qur’an yang tersebut di riwayat Ibnu Mas’ud dan boleh juga tidak.

Ketiga cara ini boleh kita baca salah satunya mana yang kita suka. dan sunnah ditambah dengan hadits INNA KHAIRAL HADITS ……….dst.

 

Kemudian sebagai penutup risalah ini, saya tuliskan bacaan yang sunnah bila dibaca di akhir/penutup majlis, baik oleh yang memberikan ceramah/pengajar maupun oleh para hadirin.

Artinya :

“Dari Abi Barzah, ia berkata : Rasulullah SAW mengucapkan diakhir urusannya apabila hendak berdiri (sudah selesai) dari satu majlis : SUBHANAKALLAHUMMA WABI HAMDIKA, ASYAHDU ALLAA ILAAHA ILLA ANTA, ASTAGHFIRUKA WA-ATUBU ILAIKA” (artinya : Maha Suci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu, aku mengakui bahwa tidak ada Tuhan (yang boleh disembah) melainkan Engkau, aku memohon ampun kepada-Mu, dan aku bertobat kepada-Mu).

Lalu seseorang bertanya : Ya Rasulullah ! sesungguhnya Engkau tadi mengucapkan satu perkataan yang belum pernah Engkau ucapkan sebelumnya.

Beliau menjawab : “(bacaan) itu sebagai kaffarat (penebus kesalahan/dosa yang terjadi di dalam majlis (tadi)”.

(Hadits shahih riwayat Abu Dawud No. 4859)

Hadits ini juga diriwayatkan Imam Tirmidzi dari Abu Hurairah dan Tirmidzi berkata : Hasan-shahih ! kemudian Imam Hakim meriwayatkan juga dari Aisyah dan ia berkata : Shahihul isnad !.

(Baca kitab : Al-Adzkar halaman 204-205 oleh Imam Nawawi).

 

Sampai disini saya cukupkan risalah tentang Khotbatul Hajat ini, mudah-mudahan tulisan ini mendapat keridlaan Allah Ajaw Wa Jala dalam rangka menghidupkan kembali sunnah Nabi-Nya, yang kini penulis bersama kawan-kawan tercinta pendukung-pendukung sunnah sedang berusaha keras untuk itu. Dan apabila ada kesalahan dalam tulisan ini semata-mata datangnya dari penulis, sedang kebenaran itu tidak lain datangnya dari Allah ‘Azza Wa-Jala.

 

 

“SUBHANAKALLAHUMMA WABI HAMDIKA, ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLA ANTA, ASTAGHFIRUKA WA-ATUBU ILAIKA”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 25, 2012 in Artikel Islam

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: