RSS

WAKAF TIDAK BOLEH DIJUAL

22 Apr

 

  1. A.          MATAN HADIS

 

عن ابن عمررضى الله عنه قال : اَصَابَ عُمَرُ رَضِىَ الله عَنْهُ اَرْضًا بِخَيْبَرَ. فَأَتَى النبيَ صلى الله عليه وسلم يَسْتَأمِرُهُ فِيْهَا فَقَالَ : إِنِّي اَصَبْتُ اَرْضًا بِخَيْبَرَ لمَ ْاُصِبْ مَالًا قَطُّ هُوَ اَنْفَسُ عِنْدِي مِنْهُ (رواه مسلم)

Artinya:

Dari Ibnu Umar r.a. beliau berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya Allah SWT  memberikan hak kepada orang yang mempunyai hak, maka tidak ada wasiat bagi ahli waris. diriwayatkan oleh Ahmad dan al arba’ah selain an nasa’iy (jadi hanya abu daud, at tirmidzi dan ibnu majah) dan dinilai hasan oleh ahmad dan at tirmidzi, penilaian ini diperkuat oleh ibnu khuzaimah, dan ibnu jarud.juga diriwayatkan oleh ad daruquthni dari ibnu abbas r.a. dan beliau menambahkan pada akhir matannya kalimat: kecuali para ahli waris menghendakinya(menyetujuinya). Dan sanadnya bagus.”

  1. B.           SUMBER HADIS YANG TERKAIT

 

اَصَابَ عُمَرُ رَضِىَ الله عَنْهُ اَرْضًا بِخَيْبَرَ

صحيح بخاري

وقف

2565

رقم

المصدر

كتاب

باب

الحديث

1

احمد

مسند المكثرين من الصحابة

مسند ابي اسحاق سعد بن ابي وقاص

2387

2

صحيح مسلم

الوصية

الوصية بالثلث

3085

3

الترمذي

الاحكام عن رسول الله

ماجاء في الوصية بالثلث

1297

4

النسائ

الاحباس

الوصية بالثلث

3536

5

ايو داود

الوصايا

ماجاء في مالايجوز للموصي في ماله

2693

6

ابن ماجه

الاحكام

الوصية في الثلث لا تتعدى

4279

حَدَّثَنَا مسدد حَدَّثَنَا يزيد بن زريعَ حدَّثَنَا ابْنِ عون عن نافع عن ابن عمررضى الله عنهما قال : اَصَابَ عُمَرُ رَضِىَ الله عَنْهُ اَرْضًا بِخَيْبَرَ. فَأَتَى النبيَ صلى الله عليه وسلم يَسْتَأمِرُهُ فِيْهَا فَقَالَ : إِنِّي اَصَبْتُ اَرْضًا بِخَيْبَرَ لمَ ْاُصِبْ مَالًا قَطُّ هُوَ اَنْفَسُ مِنْهُ فكيف تأمرني به قال ان شئت حبست اصلها وتصدقت بها  (رواه مسلم)

  1. C.          SKEMA SANAD HADITS

  1. D.          RIWAYAT HIDUP PERAWI

 

اَصَابَ عُمَرُ رَضِىَ الله عَنْهُ اَرْضًا بِخَيْبَرَ

                                                   

 

 

رقم

الاسم

طبقة

كنية

نسب

تاريخ وفات

بلد وفات

بلد اقامة

1

صدى بن عجلان

صحا بي

ابو امامة

الباهلي

86

الشام

الشام

2

شرحبيل بن مسلم بن حامد

الوسطى من التابعين

الخولاني

الشام

3

اسماعيل بن عياس بن سليم

الوسطى من الاتباع

ابو عتبة

العنسي الحمسي

181

الشام

4

عبد الوهاب بن نجدة

كبارتبع الاتباع

ابو محمد

الحوطي الجبلي

232

الشام

  1. E.           RUTBAH PERAWI

اَصَابَ عُمَرُ رَضِىَ الله عَنْهُ اَرْضًا بِخَيْبَرَ

 

 

 

 

رقم

الاسم

 

الرتبة

1

صدى بن عجلان

1

من الصاحبة ورتبتهم اسمى مراتب العدالة والتوثيق

2

شرحبيل بن مسلم بن حامد

5

صدوق فيه لين

3

اسماعيل بن عياس بن سليم

5

صدوق في روايته عن اهل بلده مخلط في غيرهم

4

عبدل وهاب بن نجدة

3

ثقة

  1. F.           HUKUM YANG BISA DIAMBIL

Adapun hukum yang bisa diambil berdasarkan kejelasan hadits diatas adalah larangan wasiat kepada ahli waris, terkait dengan hadits diatas imam Syafi’i menjelaskan dalam kitab “Al Umm”, sesungguhnya matan hadits ini adalah mutawatir karena banyak perawi yang meriwayatkannya, akan tetapi, mengenai hadits yang diriwayatkan oleh At Tirmidzi dan An Nasa’i dari Amru bin Kharijah, juga dari Anas menurut riwayat Ibnu Majah dan dari Amru bin Syuaib dari ayahnya dari kakeknya menurut riwayat Ad Daruquthni juga diriwayatkan dari Jabir, dan kata beliau; yang benar, hadits itu mursal, bisa diamalkan (dijadikan landasan) walaupun masing-masing sanad hadits banyak terdapat kritikan orang dan kemutawatiran hadits tersebut juga ditentang oleh Fathur Razi dengan bantahannya,tetapi tidak berpengaruh mengingat hadits tersebut diterima oleh kalangan Ulama’.

Sesungguhnya Rasulullah saw, setelah melarang wasiat kepada ahli waris, maka beliau batasi larangannya itu dengan sanadnya”kecuali dikehendaki oleh semua ahli warisnya”, mereka selisih pendapat pula jika orang yang sedang sakit menetapkan sesuatu dari hartanya untuk ahli waris(diluar bagiannya sendiri)itu diperbolehkan oleh Al Auza’i dan sekelompok ulama’ secara muthlak, kata Ahmad tidak boleh penetapan orang sakit bagi ahli waris secara muthlak, alasannya karena sesungguhnya setelah larangan wasiat kepada ahli waris itu tidak dijamin Rasulullah saw, sedang kelompok pertama beralasan bahwa tuduhan jelek terhadap orang yang hampir mati itu jauh dari kebenaran, lagi pula berlakunya hukum itu berdasarkan dhohirnya maka tidak boleh ditiggalkan ikrarnya.

Menurut As Shan’ani, pendapat yang paling baik adalah pendapat yang diriwayatkan oleh sebagian ulama’ malikiyyah, pendapat itu dipilih oleh Arrauyani dari ulama’ syafiiyyah, perkaranya terkait dengan adanya tuduhan atau tidak, kalau tidak ada tuduhan maka boleh dan sebaliknnya, hal itu dapat diketahui dari beberapa kaitan situasi dan kondisi dan juga selainnya.

Kami sebagai pemakalah memang setuju dengan isi dhohir hadits tersebut, intinya larangan wasiat kepada ahli waris, akan tetapi kami masih memiliki pandangan apabila pewasiat adalah orang yang kaya raya dan para ahli warispun kaya juga tetapi masih ada para ahli waris lain yang pas-pasan, sedang dia hanya mendapat sedikit dari waris tersebut tetapi yang kaya tadi ibarat hanya sebagai uang jajan begitu saja, maka dalam hal ini kami memberikan kriteria tidak bolehnya wasiat itu dengan melihat situasi dan kondisi yang ada, sehingga dalam kasus diatas tadi kami setuju membolehkannya, ini hanya sebagai pendapat kami sebagai pemakalah,untuk kebenarannya, wallahu a’lam bis shawab…

 

 

DAFTAR PUSTAKA

As Shan’ani, Muhammad bin Isma’il. tt. Subulussalam. Bandung: Dahlan

————–, ——————————–. Terjemah Subulussalam,trj Abu Bakar                              Muhammad. Surabaya: Al Ikhlas.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 22, 2012 in Hadits

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: