RSS

Berlainan Agama Tidak Mendapat Bagian Harta Waris

22 Apr

HADITS

1)   حدثنا يحيى بن يحي وابو بكر بن شيبه واسحق بن ابرهيم والفظ ليحيى قال يحيى حدثنا ابن عيييه عن الزهرى عن على بن حسين عن عمرو بن عثمان عن اسامه بن زيد ان النبي صلّى الله عليه وسلم قال لا يرث المسلم الكافر ولا يرث الكافر المسلم.[1]

Artinya:Telah menceritakan kepada kami yahya bin yahya dan abu bakar bin syaibah dan ishak bin ibrahim  adapun redaksiya dari yahya, yahya berkata  telah mengkabarkan kepada kami ibnu uyaiyah dari zuhri dari ali bin husain  dari umar bin utsman dari usamah bin bin zain sesungguhnya nabi Muhammad SAW telah berkata “orang Islam tidak dapat mewarisi harta orang kafir dan orang kafirpun tidak dapat mewarisi hata orang Islam.”

رقم

المصدر

باب

حديث

1

بخاري

الفرائض

6267

2

مسلم

الفرائض

3027

3

ابوا دواد

الفرائض

2521

4

ابن ماجه

الفرائض

2719

5

احمد

مسند الانصارى رضى الله عنهم

25752

 

RUTBAH PEROWI

رقم

الاسم

الرتبة

1

اسامه بن زيد

ثقة ثبت

2

عمرو بن عثمان

ثقة

3

على بن حسين

ثقة

4

الزهري

ما بقي ظهر ها اعلم بسنة ماصية منه

5

ابن عيييه

ثقة ثبت فى الحديث

6

يحيى

ثقة وزياده

SKEMA SANAD

نبي محمد صلى الله عليه وسلم

 

عمرو بن عثمان

 

على بن حسين

 

الزهر

 

ابن عيييه

 

اسحق بن ابرهيم           يحيى         ابو بكر ابن شيبه

RIWAYAT HIDUP PEROWI

 

الاسم

الطبقة

النسب

الكنية

القب

بلد الاقامة

بلد الوفات

تارخ الوافات

اسامه بن زيد بن حارثه

صحابي

الكلبي

ابو محمد

حب رسول الله

المدينة

المدينة

54 هـ

عمرو بن عثمان بن عفان

الوسلو من التابعين

الكلبي

ابو عثمان

حب رسول الله

المدينة

المدينة

54 هـ

على بن الحسين بن على بن ابى طلب

الوسطى من التابعين

الهاشمى

ابو حسين

زين العايدن

المدينة

المدينة

93هـ

محمد بن مسلم بن عبد الله بن عبد الله بن شهاب

دون الوسطى التابعين

القرشى الزهري

ابو بكر

المدينة

المدينة

124 هـ

سفيان بن عيييه بن ابن عمران ميمون

الوسطى من الاتباع

الهلالى

ابو محمد

الكوفة

مروا لروذ

198 هـ

يحيى بن يحيى بن بكير بن عبد الرحمن

كبار تبع الاتباع

 التميمى الخظلبي

ابو زكريا

حمص

1227هـ

Hadist ini tergolong hadist shohih karena sanadnya mutasil dan para perawinya shiqah.

HADIST

2)   حدثنا حميد بن مسعده حدثنا حصين بن نمير عن ابن ابى ليلى عن ابن الزبير عن جابر عن النبي صلى الله عليه وسلّم قال لا يتوارث اهل ملتين[2]

رقم

المصدر

باب

حدبث

1

الترمدى

الفرئض

2034

2

احمد

مسند الانصاري ر ضي الله عنهم

20757

3

4

مالك

الفرائض

959

5

ابن ماجه

الفرائض

272

 

 

RUTBAH PEROWI

 

رقم

الاسم

الرتبه

1

جابر

ثقة ثبت 

2

محمد بن مسلم

ثقة

3

محمد

ثقة فى حديثة

4

حسين بن نمير

ثقة

5

حميد مسعده

 

Skema sanad

النبى

 

جابر

 

محمد بن مسلم

 

محمد

 

حصين بن نمير

 

حميد بن مسعده

 

RIWAYAT HIDUP PEROWI

الاسم

الطبقة

الكنية

بلد الاقامة

بلد الوفات

تارخ الوافات

جابر بن عبد الله بن عمروبن حرام

صاحبى النسب: الانصارى الساعى

ابو عبد الله

المدينة

المدينة

78 هـ

محمد بن مسلم تدرس

دون الوسطى التابعين

النسب: الاسدى

ابو الزبير

مرو الروذ

126 هـ

محمد بن عبد الرحمن ابن ابى يلى

كبار الاتباع النسب: الانصارى

ابو عبد الرحمن

الكوفه

147 هـ

حصين بن نمير

الوسطى من التابعين النسب: الكوفى

ابو محصن

حصيت

حميد بن مسعدة بن المبارك

كبار تبع الاتباع

النسب: السامى الباهاى

ابو على

البصرى

244 هـ

Hadist ini tergolong hadist shohih karena sanatnya mutasil dan para perawinya shiqah

 

 

 

 

HUKUM YANG DAPAT DIAMBIL

 

Yang dimaksud berlainan agama adalah berlainan agama yang menjadi kepercayaan antara orang yang mewarisi dengan orang yang diwarisi. Ulama Hanafiah, Syafi’iah, dan Imam Abu Dawud menetapkan bahwa aneka ragam agama selain islam dianggap satu agama, sebab pada hakekatnya mereka itu mempunyai kesatuan prinsip, yaitu menserikatkan Tuhan Allah.[3]

Sedangkan  dalam berlainan madzhab sekte dan aliran yang terdapat dalam agama islam menurut  kesepakatan dari seluruh fukoha’ tidak dapat dimasukan dalam kreteria berlainan agama.

Hal itu dikarenakan biarpun mereka berbeda-beda madzhab sekte dan aliran , namun madzhab sekte dan aliran yang mereka anut adalah bersumber dari satu agama yaitu agama Islam.

  1. Orang kafir mewarisi orang islam

Jumhur ulama sepakat menetapkan bahwa orang kafir tidak dapata mewarisi orang islam lantaran lebih rendah setatusnya dari pada orang islam. Sebagaiman adalam surat A-Nisa ayat 141:

141.  (yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: “Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu ?” dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: “Bukankah kami turut memenangkanmu[363], dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Maka Allah akan memberi Keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.[4]

Menurut Imam Ahmad  dalam salah satu pendapatnya menetapkan bahwa pewaris tersebut tidak terhalang mempusakai  sebab predikat berlainan agama sudah hilang sebelum pembagian harta pusaka.

Fukoha’ aliran Imamiyah berpendapat bahwa harta peninggalan itu belum menjadi milik ahliwaris secara tetap sebelum dibagi-bagikan  kepada orang yang bersangkutan oleh karenanya ia tak terhalang untuk mewarisi.

Dari pendapat para ulama, saya kira lebih tepat sebab andaikat sarat untuk mendapatkan hak mempusakai iu baru mulai timbul pada saa pembagian harta pusaka tentu terdapat perbedaan hokum tentang mengawalkan dan mengakhirkan pembagian harta pusaka dan tentu hal yang demikian itu dapat disalah gunakan oleh ahli waris yang masuk agama islam hanya untuk memperoleh harta pusaka saja dan kemudian murtad kembali tercapai maksudnya.[5]

  1. Orang islam mewarisi orang kafir

Ulama termasyhur dari golongan sahabat, tabiin, dan imam-imam madzhab empat berpendapat bahwa orang islam tidak dapat mewarisi orang kafir dengan sebab apa saja. Karena itu suami muslim tak dapat mewarisi harta istrinya yang kafir. Kerabat muslim tidak dapat mewarisi harta peninggalan kerabatnya yang kafir dan tuan pemilik budak yang muslim tidak dapat mewarisi harta peninggalan budak yang kafir.[6]

Beliau beralasan dengan hadist-hadist yang diriwayatkan oleh usamah bin zaid tersebut diatas dan suatu riwayat oleh usamah bin yazid menerangkan bahwa ketika Abu Thalib wafat ia meninggalkan empat  orang anak laki-laki  yakni: Ali, Ja’far, Uqail, dan Thalib. Ali dan Ja’far keduanya beragama islam sedangkan Uqail dan Thalib keduanya orang kafir. Rasulullah SAW membagikan harta pusaka Abu Thalib (yang masih dalam kekafir) kepada Uqail dan Thalib, bukan kepada Ali dan Ja’far dan seraya bersabda:” Orang Islam itu tidak boleh mewearisi orang kafir.

DAFTAR PUSTAKA


Agama RI Departemen, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: Jam’anatul Ali, 2004)

Mulyono Idris, Hukum Kewarisan Islam(Jakarta, Sinar Grafika, 2000),

Rahman Fatchur, Ilmu Waris,(Bandung, PT Al-Maarif, 1971)

Subulusalam

Utsman Halim, Hukum Wariis (Bandung, C.V Cahaya gemilang, 1999)


[1] Subulusalam………….juz III hal:98

[2] Subulusalam………….juz III hal:98

[2] Fatchur Rahman, Ilmu Waris,(Bandung, PT Al-Maarif, 1971) 95

 

[3] Fatchur Rahman, Ilmu Waris,(Bandung, PT Al-Maarif, 1971) 95

[4] [4] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: Jam’anatul Ali, 2004),

 

[5] Idris Mulyono, Hukum Kewarisan Islam(Jakarta, Sinar Grafika, 2000), 145

[6] Utsman Halim, Hukum Wariis (Bandung, C.V Cahaya gemilang, 1999) 176

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 22, 2012 in Hadits

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: