RSS

TRANSPLANTASI

20 Apr

BAB I

PENDAHULUAN

 

Mendonorkan anggota badan manusia (trasnplantasi) merupakan masalah yang belum pernah dikaji oleh ulama fuqaha’ klasik tentang hukum-hukumnya, karena masalah ini merupakan permasalahan yang muncul karena kemajuan ilmiah dalam bidang pencangkokan anggota tubuh, dimana dokter modern dapat menghasilkan hal yang menakjubkan dalam memindahkan danggota badan orang yang masih hidup atau sudah mati sehingga dapat berfungsi persis seperti sebelum anggota tubuh tersebut diamputasi.

Meskipun para fuqaha’ klasik pada zamannya belum terdapat permasalahan tersebut, namun  para fuqaha’pernah membahas berbagai macam masalah yang berkaitan dengan jasad manusia., cara pelaksanaannya, maupun pengaruhnya baik dalam jangka waktu yang panjang maupun pendek. Sehingga apa yang telah dihasilkan ulama fuqaha’ terdahulu dapat dijadikan sebagai dasar analogi (qiyas) dalam masalah transplantasi.

Namun dilain sisi, perkembangan yang maju dalam bidang kedokteran yang belum ada pada zaman ulama fiqih klasik menimbulkan perbedaan tuntutan hukum yang memungkinkan hukum ulama yang terdahulu untuk disesuaikan dengan perkembangan tersebut, sehingga perlu diadakan penelusuran kembali mengenai hukum tersebut.

 

BAB II

PEMBAHASAN

TRANSPLANTASI 

  1. A.    Pengertian Transplantasi

Transplantasi berasal dari bahasa inggris “ to transplant”[1] yang berarti to move from one place to another place “bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain”. Sedangkan menurut ahli ilmu kedokteran adalah pemindahan jaringan (kumpulan sel-sel yang sama mempunyai fungsi tertentu) atau organ (kumpulan jaringan ang mempunyai fungsi berbeda sehingga merupakan satu kesatuan yang mempunyai fungsi tertentu seperti jantung, paru-paru, dan hati atau yang lain) dari satu tempat ke tempat yang lain.

  1. B.     Pembagian Transplantasi

Terbagi atas dua bagian ;

1.Transplantasi Jaringan, seperti pencangkokan kornea mata;

  1. Transplantasi Organ, seperti pencangkokan ginjal, jantung dan sebagainya.

Di lihat dari hubungan genetik antara donor dan recipient, maka transplantasi terbagi atas:

  1. Auto Transplantasi, yaitu transplantasi antara donor dan recipient merupakan satu individu. Seperti seorang yang hidung nya dioperasi untuk memulihkan bentuk dengan diambilkan daging dari bagian badannya yang lain;
  2. Homo Transplantasi, transplantasi Antara donor dan resipien dari spesies yang sejenis; hal ini bias terjadi dari dua donor dan resipien yang masih hidup atau donor yang telah meninggal dunia yang disebut cadaver donor.
  3. Hetero Transplantasi, ialah donor dan resipiennya dua individu yang berlainan spesies. Seperti donor dari hewan sedang resipiennya manusia.
  1. C.    Hukum Transplantasi
    1. Pendonoran Anggota Badan Menurut Teks Fiqih Klasik

Kebanyakan dari mereka mengharamkan pendonoran anggota badan, sebagaimana yang telah diungkapkan oleh an-Nawawi yang menegaskan bahwa “diharamkan bagi manusia untuk memotong salah satu anggota tubuhnya dan memberikannya kepada seseorang yang dalam keterpaksaannya  agar dimakannya[2]

Menurut Ibnu Najim dalam kitab al-Asybah wa an-Nazhar beliau mengatakan bahwa para fuqaha’ sepakat bahwa tidak boleh bagi seorang yang terpaksa memakan badan manusia hidup yang darahnya suci (dammul ma’suum) untuk menyelamatkan dirinya dari kebinasaan.[3]

  1. Macam-macam hak yang berkaitan dengan jasad manusia

Ulama’ ushul dan fikih membagi hak manusia ditinjau dari pemiliknya menjadi dua bagian yaitu hak Allah dan hak manusia.

  1.  Hak Allah adalah yang berkaitan dengan manfaat umum yang tidak dikhususkan pada orang tertentu yaitu:

1)      Haram bunuh diri;

2)      Haram menganiaya diri sendiri;

3)      Pembunuh harus dibunuh meski wali si korban memaafkan;

4)      Haram meminum minuman yang memabukkan;

  1. Hak manusia berkaitan dengan manfaat individu secara khusus dan tertentu, yaitu:

1)      Hak untuk menuntut qhisash bagi orang yang dianiaya salah satu anggota tubuhnya dan bagi ahli warisnya jika dia terbunuh dengan sengaja.

2)      Kerelaan korban terhadap pembunuhan menggugurkan qhisash.

  1. Syarat-Syarat Boleh Mendonorkan Anggota Badan

1)      Kemungkinan bahaya yang dapat dicegah secara pasti;

2)      Kemungkinan bahaya  yang terjadi jika dilakukan;

3)      Perbedaan antara bahaya yang dapat dicegah dan bahaya yang diakibatkan bisa diperbandingkan secara pasti dan jelas;

4)      Secara realitas, tidak mungkin mencegah kedua bahaya itu secara bersama-sama (bahaya terhadap donor dan resipien)

Hal ini didasarkan pada kaidah :

الضرر الأشد يزال بالضرر الأخف

kemadlaratan yang lebih berat dihilangkan dengan kemadlaratan yang lebih ringan

الحاجة تنزل منزلة الضرورة عامة كانت اوخاصة

            “Kebutuhan menempati darurat baik secara umum maupun khusus

  1. 4.      Transplantasi Organ Dari Donor Yang Masih Hidup

1)      Mendonorkan anggota badan yang bisa pulih kembali

Donor terhap resipien yang tidak menimbulkan keadaan yang merusak donor baik dalam waktu yang dekat atau lama, maka hal itu dperbolehkan karena bermanfaat dan dianggap menuhi syarat-syarat yang tidak menimbulkan bahaya kepada pendonor dan mencegah adanya kerusakan  seperti donor darah.

2)      Mendonorkan anggota badan karena diyat

Syara’ membolehkan seseorang pada saat hidupnya dengan sukarela tanpa ada paksaan siapapun untuk meny­umbangkan sebuah organ tubuhnya atau lebih kepada orang lain yang membutuhkan organ yang disumbangkan itu, seperti tangan atau ginjal. Ketentuan itu dikarenakan adanya hak bagi seseorang yang tangannya terpotong, atau tercongkel matanya akibat perbuatan orang lain untuk mengambil diyat (tebusan), atau memaafkan orang lain yang telah memotong tangannya atau mencongkel matanya.  Memaafkan pemotongan tangan atau pencongkelan mata, hakekatnya adalah tindakan menyumbangkan diyat. Sedangkan penyumbangan diyat itu berarti menetapkan adanya pemilikan diyat, yang berarti pula menetapkan adanya pemilikan organ tubuh yang akan disumbangkan dengan diyatnya itu. Adanya hak milik orang tersebut terhadap organ-organ tubuhnya berarti telah memberinya hak untuk memanfaatkan organ-organ tersebut, yang berarti ada kemubahan menyumbang­kan organ tubuhnya kepada orang lain yang membutuhkan organ tersebut. Dan dalam hal ini Allah SWT telah membolehkan memberi­kan maaf dalam masalah qishash dan berbagai diyat. Allah SWT berfirman :

Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudara­nya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kalian dan suatu rahmat.” (QS. Al Baqarah : 178)

 

3)      Mendonorkan anggota badan yag menyebabkan kematian pada pendonor

Syarat bagi kemubahan menyumbangkan organ tubuh pada saat seseorang masih hidup, ialah bahwa organ yang disum­bangkan bukan merupakan organ vital yang menentukan kelang­sungan hidup pihak penyumbang, seperti jantung, hati, dan kedua paru-paru.

Hal ini diharamkan karena penyumbangan organ-organ tersebut akan mengakibatkan kematian pihak penyumbang, yang berarti dia telah membunuh dirinya sendiri. Padahal seseorang tidak dibolehkan membunuh dirinya sendiri atau meminta dengan sukarela kepada orang lain untuk membunuh dirinya. Allah SWT berfirman:

Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian.” (QS. An Nisaa’ : 29)

Allah SWT berfirman pula :

“…dan janganlah kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (QS. Al An’aam : 151)

Keharaman membunuh orang yang diharamkan Allah (untuk membunuhnya) ini mencakup membunuh orang lain dan membunuh diri sendiri. Imam Muslim meriwayatkan dari Tsabit bin Adl Dlahaak RA yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“…dan siapa saja yang membunuh dirinya sendiri dengan sesuatu (alat/sarana), maka Allah akan menyiksa orang terse­but dengan alat/sarana tersebut dalam neraka Jahannam.”

4)      Mendonorkan anggota badan yang berharga namun tidak menyebabkan   kematian..

Demikian pula seorang laki-laki tidak dibolehkan meny­umbangkan dua testis (zakar), meskipun hal ini tidak akan menyebabkan kematiannya, sebab Rasulullah SAW telah melarang pengebirian/pemotongan testis (al-khisha’), yang akan menye­babkan kemandulan. Imam Bukahri meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud RA, dia berkata :

“Kami dahulu pernah berperang bersama Nabi SAW sementara pada kami tidak ada isteri-isteri. Kami berkata, ‘Wahai Rasulullah bolehkah kami melakukan pengebirian ?’ Maka beliau melarang kami untuk melakukannya.” 

Hukum ini dapat diterapkan juga untuk penyumbangan satu buah testis, kendatipun hal ini tidak akan membuat penyum­bangnya menjadi mandul. Ini karena sel-sel kelamin yang terdapat dalam organ-organ reproduktif yaitu testis pada laki-laki dan indung telur pada perempuan merupakan sub­stansi yang dapat menghasilkan anak, sebab kelahiran manusia memang berasal dari sel-sel kelamin. Dalam testis terdapat sel-sel penghasil sel-sel sperma mengingat testis merupakan pabrik penghasil sel sperma. Dan testis akan tetap menjadi tempat penyimpanan  yakni pabrik penghasil sel sperma dari sel-selnya, baik testis itu tetap pada pemiliknya atau pada orang yang menerima transplantasi testis dari orang lain.

Atas dasar itu, maka kromosom anak-anak dari penerima transplantasi testis, sebenarnya berasal dari orang penyum­bang testis, sebab testis yang telah dia sumbangkan itulah yang telah menghasilkan sel-sel sperma yang akhirnya menjadi anak. Karena itu, anak-anak yang dilahirkan akan mewarisi sifat-sifat dari penyumbang testis dan tidak mewarisi sedi­kitpun sifat-sifat penerima sumbangan testis. Jadi pihak penyumbang testislah yang secara biologis menjadi bapak mereka.

Maka dari itu, tidak dibolehkan menyumbangkan satu buah testis, sebagaimana tidak dibolehkan pula menyumbangkan dua buah testis. Sebab, menyumbangkan dua buah testis akan menyebabkan kemandulan pihak penyumbang. Di samping itu, menyumbangkan satu atau dua buah testis akan menimbulkan pencampuradukan dan penghilangan nasab. Padahal Islam telah mengharamkan hal ini dan sebaliknya telah memerintahkan pemeliharaan nasab.

Imam Ibnu Majah meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, dia mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda :

“Siapa saja yang menghubungkan nasab kepada orang yang bukan ayahnya, atau (seorang budak) bertuan (loyal/taat) kepada selain tuannya, maka dia akan mendapat laknat dari Allah, para malaikat, dan seluruh manusia.” 

Imam Ibnu Majah meriwayatkan pula dari Utsman An Nahri RA, dia berkata, “Aku mendengar Sa’ad dan Abu Bakrah masing-masing berkata,’Kedua telingaku telah mendengar dan hatiku telah menghayati sabda Muhammad SAW :

Siapa saja yang mengaku-ngaku  (sebagai anak) kepada orang yang bukan bapaknya, padahal dia tahu bahwa orang itu bukan bapaknya, maka surga baginya haram.”

  1. Transplantasi Dari Donor Yang Telah Meninggal

Untuk mendapatkan kejelasan hukum trasnplantasi organ dari donor yang sudah meninggal ini, terlebih dahulu harus diketahui hukum pemilikan tubuh mayat, hukum kehormatan mayat, dan hukum keadaan darurat.

a)      Pemilikan Mayat

Mengenai hukum pemilikan tubuh seseorang yang telah meninggal, kami berpendapat bahwa tubuh orang tersebut tidak lagi dimiliki oleh seorang pun. Sebab dengan sekedar mening­galnya seseorang, sebenarnya dia tidak lagi memiliki atau berkuasa terhadap sesuatu apapun, entah itu hartanya, tubuh­nya, ataupun isterinya. Oleh karena itu dia tidak lagi berhak memanfaatkan tubuhnya, sehingga dia tidak berhak pula untuk menyumbangkan salah satu organ tubuhnya atau mewasiat­kan penyumbangan organ tubuhnya.

Tetapi, ketika meninggal, haknya untuk dihormati masih ada yaitu dimandikan, dikafani, disholati dan sebagainya .hak-hak itu walaupun bersifat khusus bagi pemiliknya, tetapi di dalamnya ada hak Allah , hingga hak Allah itu tidak bisa gugur walaupun ada faktor-faktor lain yang menggugurkan hak manusia.[4]

Berdasarkan hal ini, maka seseorang yang sudah mati tidak dibolehkan menyumbangkan organ tubuhnya dan tidak dibenarkan pula berwasiat untuk menyumbangkannya.  Sedangkan mengenai kemubahan mewasiatkan sebagian hartanya, kendatipun harta bendanya sudah di luar kepemili­kannya sejak dia meninggal, hal ini karena Allah telah mengizinkan seseorang untuk mewasiatkan seba­gian hartanya hingga sepertiga tanpa seizin ahli warisnya. Jika lebih dari sepertiga, harus seizin ahli warisnya. Adanya izin tersebut hanya khusus untuk masalah harta benda dan tidak mencakup hal-hal lain. Izin ini tidak men­cakup pewasiatan tubuhnya. Karena itu dia tidak berhak berwasiat untuk menyumbangkan salah satu organ tubuhnya setelah kematiannya.  Mengenai hak ahli waris, maka Allah SWT telah mewaris­kan kepada mereka harta benda si mayit, bukan tubuhnya. Dengan demikian, para ahli waris tidak berhak menyumbangkan salah satu organ tubuh si mayit, karena mereka tidak memi­liki tubuh si mayit, sebagaimana mereka juga tidak berhak memanfaatkan tubuh si mayit tersebut. Padahal syarat sah menyumbangkan sesuatu benda, adalah bahwa pihak penyumbang berstatus sebagai pemilik dari benda yang akan disumbangkan, dan bahwa dia mempunyai hak untuk memanfaatkan benda terse­but. Dan selama hak mewarisi tubuh si mayit tidak dimiliki oleh para ahli waris, maka hak pemanfaatan tubuh si mayit lebih-lebih lagi tidak dimiliki oleh selain ahli waris, bagaimanapun juga posisi atau status mereka

Namun terdapat pendapat yang mengatakan hsl itu dapt dilakukan bila seseorang berwasiat untuk mendonorkan anggota badannya, maka wasiat itu bisa dijadikan pegangan dan bisa dilaksanakan setelah kematiannya dan dia harus mempertimbangkannya kembali  Ahli warispun diperbolehkan mendonorkan atau mengizinkan agar mayat keluarganya dipotong untuk diambil anggota badannya  padahal mayat itu tidak berwasiat sebelumnya, dengan alasan bahwa izin ahli waris bisa menjadi pertimbangan dan sama kedudukannya dengan wasiat mayat sendiri.[5]

Akan tetapi anggota badan yang tidak diwariskan oleh si empunya tidak diperbolehkan untuk dimanfaatkan, sebagaimana translplantasi di indonesia diperbolehkan hanya dengan izin ahli warisnya sebagaimana tertera dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan.

b)      Kehormatan Mayat

Adapun hukum kehormatan mayat dan penganiayaan terha­dapnya, maka Allah SWT telah menetapkan bahwa mayat mempun­yai kehormatan yang wajib dipelihara sebagaimana kehormatan orang hidup. Dan Allah telah mengharamkan pelanggaran terha­dap kehormatan mayat sebagaimana pelanggaran terhadap kehor­matan orang hidup. Allah menetapkan pula bahwa menganiaya mayat sama saja dosanya dengan menganiaya orang hidup. Diriwayatkan dari A’isyah Ummul Mu’minin RA bahwa Rasulullah SAW bersabda :

كسر عظم الميت ككسر حيا في الاثم (رواه أبو داود وابن ماجه)

Memecahkan tulang mayat itu sama dengan memecahkan tulang orang hidup.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Hibban)[6]

c)      Keadaan Darurat

Keadaan darurat adalah keadaan di mana Allah memboleh­kan seseorang yang terpaksa yang kehabisan bekal makanan, dan kehidupannya terancam kematian untuk memakan apa saja yang didapatinya dari makanan yang diharamkan Allah, seperti bangkai, darah, daging babi, dan lain-lain. Apakah dalam keadaan seperti ini dibolehkan mentransplantasikan salah satu organ tubuh mayat untuk menyelamatkan kehidupan orang lain, yang kelangsungan hidupnya tergantung pada organ yang akan dipindahkan kepadanya?  Untuk menjawab pertanyaan itu harus diketahui terlebih dahulu hukum darurat, sebagai langkah awal untuk dapat mengetahui hukum transplantasi organ tubuh dari orang yang sudah mati kepada orang lain yang membutuhkannya.  Mengenai hukum darurat, maka Allah SWT telah memboleh­kan orang yang terpaksa yang telah kehabisan bekal maka­nan, dan kehidupannya terancam kematian untuk memakan apa saja yang didapatinya dari makanan yang diharamkan Allah seperti bangkai, darah, daging babi, dan lain-lain hingga dia dapat mempertahankan hidupnya. Allah SWT berfir­man :

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagi kalian bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam kea­daaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa atas­nya.” (QS. Al Baqarah : 173)

Maka orang yang terpaksa tersebut boleh memakan makanan haram apa saja yang didapatinya, sehingga dia dapat memenuhi kebutuhannya dan mempertahankan hidupnya. Kalau dia tidak mau memakan makanan tersebut lalu mati, berarti dia telah berdosa dan membunuh dirinya sendiri. Padahal Allah SWT berfirman :

  “Dan janganlah kalian membunuh diri-diri kalian.” (QS. An Nisaa’ : 29)

 

BAB III

KESIMPULAN

 

  1. .Transplantasi adalah pemindahan jaringan (kumpulan sel-sel yang sama mempunyai fungsi tertentu) atau organ (kumpulan jaringan ang mempunyai fungsi berbeda sehingga merupakan satu kesatuan yang mempunyai fungsi tertentu seperti jantung, paru-paru, dan hati atau yang lain) dari satu tempat ke tempat yang lain.
  2. Hukum Transplantasi
    1. Menurut Teks Fiqih Klasik

Kebanyakan dari mereka mengharamkan pendonoran anggota badan, dikeranakan  untuk menyelamatkan diri manusia sendiri dari kebinasaan..

  1. Transplantasi boleh dilakukan bila dilakukan dalam keadaan terpaksa an memenuhi syarat-syarat yang tidak menimbulkan bahaya kepada pendonor dan mencegah adanya kerusakan.
  2. Syarat-Syarat Boleh Mendonorkan Anggota Badan

1)      Kemungkinan bahaya yang dapat dicegah secara pasti;

2)      Kemungkinan bahaya  yang terjadi jika dilakukan;

3)      Perbedaan antara bahaya yang dapat dicegah dan bahaya yang diakibatkan bisa diperbandingkan secara pasti dan jelas;

4)      Secara realitas, tidak mungkin mencegah kedua bahaya itu secara bersama-sama (bahaya terhadap donor dan resipien)

Hal ini didasarkan pada kaidah :

الضرر الأشد يزال بالضرر الأخف

kemadlaratan yang lebih berat dihilangkan dengan kemadlaratan yang lebih ringan

الحاجة تنزل منزلة الضرورة عامة كانت اوخاصة

            “Kebutuhan menempati darurat baik secara umum maupun khusus

  1. Transplantasi Organ Dari Donor Yang Masih Hidup

1)      Mendonorkan anggota badan karena diyat diperbolehkan

2)      Mendonorkan anggota badan yag menyebabkan kematian pada pendonor tidak diiperbolehkan

3)      Boleh mendonor asal tidak membuat bahaya bagi si pendonor

  1. Transplantasi Dari Donor Yang Telah Meninggal

1)      Tubuh orang yang telah meninggal tidak lagi dimiliki oleh seorang pun. Sehingga dia tidak lagi memiliki atau berkuasa terhadap sesuatu apapun, entah itu hartanya, tubuh­nya, ataupun isterinya.

2)      Dia tidak lagi berhak memanfaatkan tubuhnya,.

3)      Pewarisan anggota tubuh yang bukan menjadi hak ahli waris tidaklah sesuai dengan kaidah dasar pemberian harta warisan kepada yang berhak, yaitu;

4)      Terdapat pendapat yang mengatakan hsl itu dapt dilakukan bila seseorang berwasiat untuk mendonorkan anggota badannya, maka wasiat itu bisa dijadikan pegangan dan bisa dilaksanakan setelah kematiannya dan dia harus mempertimbangkannya kembali

5)      Anggota badan yang tidak diwariskan oleh si empunya tidak diperbolehkan untuk dimanfaatkan, sebagaimana translplantasi di indonesia diperbolehkan hanya dengan izin ahli warisnya sebagaimana tertera dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

–          A.S.Hornby,sc., The Advanca Learner’s Dictionary of Current English, 2 ed.,

–          Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Al-Majmu’ SYarh al-muhadzzab, (Jeddah : Maktabah al-Irsyad) dan Hasyiyah al-Qalyubi wa Umairaha’laa syrah al-Muhalla(darul ihya ad-Kutub al-Arabiyyah

–          Ibnu Najm, , al-Asybah wa an-Nazhar, (Beirut : Dar al-Kutub).1985

–          Abdul Aziz Izzuddin bin Abdissalam as-Silmi,qawaid al-Ahkam, fi Mashailil Anam, Daar asy-Syarq Lith-Thiba’ah,1986

–          Yasin M. Nu’aim, Fikih Kedokteran, (Jakarta : Pustaka al-Kautsar,2003)

–          As-Suyuti, Al-Jami’ As-Shaghir

 


[1] A.S.Hornby,sc., The Advanca Learner’s Dictionary of Current English, 2 ed., hal.1075

[2] Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Al-Majmu’ SYarh al-muhadzzab, (Jeddah : Maktabah al-Irsyad)juz 9, hal.37 dan Hasyiyah al-Qalyubi wa Umairaha’laa syrah al-Muhalla(darul ihya ad-Kutub al-Arabiyyah), juz IV, hal.264

[3] Ibnu Najm, al-Asybah wa an-Nazhar, (Beirut : Dar al-Kutub,1985) hal. 87

–          [4] Izzuddin Abdul Aziz bin Abdissalam as-Silmi,qawaid al-Ahkam, fi Mashailil Anam, (Daar asy-Syarq Lith-Thiba’ah,1986) juz 1 , hal.167

[5] M. Nu’aim Yasin, Fikih Kedokteran, (Jakarta : Pustaka al-Kautsar,2003)hal.165-166

[6] As-Suyuti, Al-Jami’ As-Shaghir, hal 232

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 20, 2012 in Makalah

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: